Postingan

One Big Tree

Gambar
Let me tell you a story about this one big tree. This tree has been standing there since years ago. It's used to get viral on social media and many people took a pic of it, well, they might thought the tree was special because it was the only big one that grows in that not-so-green field. But now, i can tell that the tree has been ironically left out by seeing so many rubbish around. Nevertheless, the tree is still standing there, stronger, bigger and greener. What i'm trying to say is, don't let those harsh words change the way you feel about yourself, you dont need them-people-who-don't-see-your-worth to validate you. Let's say the sun as your self-love, the air as your confidence, and the rain (water) as your willingness to be a better version of your self. I'm not saying that support from your loved ones isn't necessary, it is, but people change and leave, honey, either they get bored or die. So the only support that matters the most is the...

Mana tau besok akan jatuh cinta?

Gambar
Danau Perintis, Bone Bolango, Gorontalo, Indonesia. Ada yang diberi coklat Ada yang diberi jam tangan Ada pula yang diberi bunga Aku tau seperti apa rasanya Menerima hal yang tak terduga Apalagi dari dia yang tercinta Bandana pun terlihat seperti mahkota Ada yang bergandengan tangan Ada yang bersepeda sembari berpelukan Ada pula yang sepayung berdua menikmati hujan Semua kuamati dengan kesendirian Namun apakah itu membuatku kesepian? Tidak juga Bahagia tidak melulu tentang memiliki pasangan Bagaimana dengan kemandirian? Atau bersolek dengan teman? Atau sekedar jalan-jalan? Bukan maksud menutup kesempatan Hati boleh berdekatan Raga pun boleh berjalan beriringan Kalau sudah waktunya pasti akan berpapasan di ujung jalan Tidak perlu tergesa-gesa Semua akan ada waktunya Di ujung setapak ada yang bertegur sapa Di kolom obrolan ada yang bertukar pesan suara Lalu ada yang bertanya "Kamu kapan?" Nanti saja Ma...

Hati yang tertata kembali

Gambar
Benteng Ulantha, Bone Bolango, Indonesia. Mata ini mulai terbiasa Melihat dua insan yang sedang beradu kata Bibir ini mulai terbiasa Mengucap aku tak apa Padahal hati sedang diasah Benak ini mulai terbiasa Dipenuhi masalah yang seharusnya tak ada Hanya perlu waktu Tuk mengatakan aku mampu Cepat atau lambat pun tak tentu Menunggu hati agar tidak runtuh Pohon mahoni telah menjadi saksi Di sandarannya ku hanya ingin menyendiri Berbagi semua kesedihan yang tak berarti Sesekali menyanyi Agar duka itu pergi Walau terkadang akan datang lagi Satu hal yang ku sadari Aku tak perlu lari Menyembunyikan hati, Menyalahkan diri, Dan akhirnya sakit sendiri Cukup, Lihatlah di luar sana Ada senyuman yang lebih indah Dengan mata coklat yang merekah Yang senang mengelus kepala Yang membuat hati kembali tertata Dan akhirnya patah hanyalah sebuah kata 7 November 2018 Rabu sore, dengan hati yang terlahir kembali.

Kuatlah, kata Mama

Gambar
Di Atas Kapal, Pelabuhan Anggrek, Gorontalo Utara. Kenangan itu seperti bom waktu Tertimbun di alam bawah sadar Siap meledak tanpa aba-aba Kenangan itu seperti mafia Bersembunyi di kala terang Menyerang saat gelap Saat hati sedang lelah Dan pikiran sedang goyah Ku ingin lupa Tapi kenangan itu terlalu merekat Tidak pula memiliki sekat Menyebar di setiap sudut pekat Dan apapun yang kau lakukan akan selalu ingat Kuatlah, kata Mama Wanita lemah bukanlah kita Hati bisa jadi sebuah perkara Tapi jangan sampai menjadi bencana Hidup tak melulu soal dia Bagaimana dengan cinta orang tua? Teman yang selalu ada? Kualitas diri yang harus terus diasah? Perlahan kau akan lupa Yakin saja Tersenyumlah Bahagialah Senyuman mu sedang ditunggu seseorang di luar sana Jadi, Bersabarlah 29 Oktober 2018 Senin malam, bersama mata yang terlelap.

Samapta bagiku;

Gambar
Yonko 464 Paskhas, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Samapta bagiku; Pohon rindang senyaman kasur busa Rentetan tembakan bagai panggilan mama Pagi terasa malam Malam pun tetap sama Samapta bagiku; Setiap langkah harus seirama Tak lupa pula bersuara Ego harus mengalah Karena setiap kekuatan itu berbeda Samapta bagiku; Daun kering, botol minum, dan kantung pasir Siang dengan teriknya Malam dengan dinginnya Dan kami dengan hitamnya Samapta bagiku; Merupakan sebuah ujian Bukan hanya tentang menghafalkan gerakan dan teori Bukan juga dianggap terkuat oleh pelatih Tapi tentang menguatkan hati Tak melulu soal fisik Karena hal itu sudah pasti Samapta bagiku; Bukan hanya tentang menahan kantuk Bukan pula menahan emosi karena dihukum Tapi tentang menjaga hati tetap utuh Walau telah berkali-kali jatuh Samapta bagiku; Tak hanya menyisakan kulit yang menggelap Namun juga tulisan di saat terlelap 25 Oktober 2018 Kamis sore, dengan kalimat yang tak ku mengerti.

Aku Kira Aku Sudah Lupa

Gambar
Kebun Stroberi, Malino, Sulawesi Selatan Hari ini melelahkan seperti biasanya Fisik ini belum menyerah Pun hati ini tetap tabah Anggap saja demikian Hari ini melelahkan seperti biasanya Perasaan itu masih ada Pun dirimu tetap sama Menatapku pun enggan Aku kira aku sudah lupa Ternyata bersembunyi saja Lalu ditataplah matanya Dan berantakan semuanya Kamu terlalu dekat Buat aku sesak Beri aku jeda Tuk mengingat bahwa kita sudah tak ada 19 Oktober 2018 Jumat siang, awal perjuangan hati.

Untuk Gadis yang Sedang Duduk di Depan Kaca

Gambar
Tulisan ini bukan untuk mereka Bukan untuk dia Bukan pula untukmu Tulisan ini bukan tentang mereka yang berada di bawah atap itu Bukan tentang dia yang telah menghindar dariku Bukan pula tentangmu yang sedang menebak seperti apa aku Tulisan ini untuk Ifah Gadis yang kurang suka dipanggil Arifah Gadis yang berusaha mengepakkan sayapnya Gadis yang selalu merindukan orang rumah Gadis yang selalu mencari celah bahagia di setiap langkahnya Gadis yang kadang lupa kalau dia berharga Gadis yang mulai redup kepercayaan dirinya Ah terlalu banyak jika disebutkan semua Namun satu yang tak pernah dia lupa Kecintaan pada dirinya adalah yang utama Kau akan sering melihat dia tertawa Dan mungkin akan bosan dengan senyumnya yang sok manja Atau potret wajahnya yang selalu terpampang di media sosial Dia takkan peduli komentar di luar sana Dia bahagia, itu saja Untuk gadis bernama Ifah Tuhan sedang menyaksikanmu dari atas sana Ibu dan Bapak tak per...